Rabu, 25 Oktober 2017

Cerpen Pertama Yang Berjudul "Impian Mima"

IMPIAN MIMA


                                                       Oleh : Syamsuhidjar Ar Rasyidi  
       
         Tidak sanggup lagii harus melihat penderitaan yang dialami. Sangat tersedak tangis jika mengingat semuanya. Hanya suara yang dia punya. Mungkinkah bisa merubah segalanya? Dengan kepercayaan dan keyakinan. Mudah-mudahan.

          Mima adalah seorang anak tunggal. Mama dan Papanya sangat senang jika Mima pulang membawa piala dari suaranya. Sudah bertahun dan berturut-turut Mima memenangkan juara lomba Menyanyi.

          Kini orangtua sudah tiada kabar. Mereka berhamburan seperti gelas pecah. Mima yang merasa sendirian Tidak kuat untuk menahan senyuman terpaksa ini.

          Pagi ini Mima pertama kalinya menjalankan pendidikannya disebuah SMA. Dirinya menghela nafas yakin akan jalan pilihannya. Dalam penglihatan yang begitu teliti. Mima melihat banyak dari sebagian orang mempunyai bakat-bakat terpendam. Banyak juga seleksi dari sekolah untuk bisa menjadi bintang. Tapi mengapa mereka tidak ingin melakukannya. Tekad mereka ciut seperti tahu basi. Punya talent tidak dimanfaatkan. Sungguh sangat disayangkan.

          Mima yang masih berstatus anak baru itu duduk disebuah kursi kosong. Terlihat dua orang perempuan menghampirinya.

“Eh kau anak baru. Udah izin belum duduk disitu?” Tanya Putri yang sebenarnya adalah sekelas dengan Mima.
“Loh kita kan baru masuk. Kelas juga baru dibagi. Kenapa aku tidak boleh duduk disini?” Jawab Mima dengan heran.
“Oke kalau itu mau kau” Ucap Lagi Putri kemdian menghampiri Mima dan menjambak rambutnya hingga Mima tersedak tangis.

          Putri adalah seseorang yang sangat berkuasa didalam kelas itu. Walau anak baru, dia dapat dengan cepat menguasai kelas dan teman-temannya. Sekrang Putri menjadi salah satu ketua geng. Yang dibintangi Ayu dan Nabilla.

          Sekarang mereka bertiga menjadi sangat berkuasa. Tidak ada yang berani jika harus menentang mereka. Mungkin saja ada orang yang bisa menyadarkan mereka, akan keburukan yang mereka buat. Semoga karma menyertai mereka diujung cerita.
2 bulan kemudian……

          Mima yang sudah tampak pucat, tidak dapat berdaya. Dirinya sempat berdo’a untuk seseorang yang dapat membantunya. Mengapa dunia ini terlalu kejam baginya. Tidak ada satu orangpun yang membelanya dibully. Hingga pada suatu saat ada anak baru bernama Wahyu datang memasuki kelas Mima.

          Wahyu mengenalkan dirinya dan tersenyum melihat Mima. Mima yang duduk sendirian kemudian dihampiri Wahyu yang bergegas duduk disebelahnya.

“Hay” Sapa Wahyu.
“Hay Juga” Balas Mima lembut.
“Wahyu” Ucap Wahyu menydorkan tangannya.
“Udah kenal, kan tadi perkenalkan diri” Balas Mima tertawa kecil.
“Hahaha. Iyaiya” Balas Wahyu sedikit tersenyum aneh.

          Saat jam istirahat berlangsung. Suatu informasi mengabarkan bahwa ada penyeleksian untuk penyanyi disekitar sekolah. StarSchool. Mima yang tersentak bersemangat untuk mendaftar. Tapi ada saja yang menghadangnya.

“Kau mau ikut? Yakin? Sebagus apa suaramu?” Tanya Putri dengan senyuman jahat.

          Mima yang terdiam lalu mengabaikannya. Mima yang sangat yakin ingin membuktikan kepada Mama dan Papanya. Mima ingin mereka sadar bahwa Mima adalah anak mereka yang tidak bisa tanpa mereka. Semoga beban ini terselesaikan satu persatu.

          Saat pedaftaran dimulai. Mima yang menunggu cukup lama kemudian dipanggil.

“Kamu pemenang lomba nyanyi yang di Medan itu kan?” Tanya salah satu juri.
“Ehm, Iya pak” Jawab Mima malau-malu.
“Bagus. Hadiah lomba ini lumayan besar Dan banyak reputasi kamu kedepannya. Kamu juga bisa menjadi seorang singer di wilayah ini jika kamu mau. Teruskan perjuangan ya. Saya percaya sama kamu” Ucap Juri itu memotivasi Mima.

          Mima yang tersenyum bahagia tiba-tiba saja didorong hingga jatuh.

“Belum apa-apa udah curang. Juri udah disuap? Dasar lemah!!!” Ucap Putri yang melipat tangannya.
“Kaliian ini selalu mengusikku” Jawab Mima beranjak berdiri.
“Oh jelas. Kami ini tidak suka sama kau!!!” Bentak Nabilla yang terus mendorong bahu Mima.
“Terus kau mau apa” Ucap Ayu sembari menjambak Mima.
“Kalian jahat sekali. Aku mohon tinggalkanku” Tangis Mima memohon.
“Dasar Lemah!!!” Ucap Putri bergegas pergi.

          Mima duduk dan melamun disebuah pohon. Wahyu yang terkejut melihat Mima bergegas menghampiri Mima.

“Hey, kenapa nangis?” Tanya Wahyu menatap Mima.
“Wahyu” Peluk Mima dengan terisak tangisan.
“Kenapa?” Tanya lagi Wahyu penasaran.
“Kehidupan ini jangan disesali Mima. Jalani apa saja yang menjadi sesuatu keuntungan buat kita” Ucap Wahyu menenangkan Mima.
“Iya. Makasih ya” Balas Mima menghapus airmatanya.
“Buat?” Tanya Wahyu heran.
“Buat semangatnya” Jawab Mima tersenyum manis kepada Wahyu.
“Iya sama-sama” Ucap Wahyu membalas senyuman Mima.

          Sebentar lagi Mima menjadi salah satu Finalis dalam ajang lomba bernyanyi. Terlihat semua peserta panik  menghadapinya. Bukan mereka saja. Mima sendiri juga sangat tidak percaya diri. Namun Wahyu meyakinkan dirinya. Mima juga menjadi lebih semangat.

          Dengan sangat belum siap Mima menjadi peserta nomor pertama yang dipanggil. Mima maju dan tepukan menyertainya termasuk Wahyu. Mima berulang kali menghela nafasnya dan bergegas maju keatas panggung.

          Dia menyanyi dengan sangat leluasa. Hingga juri-juri terpukau melihatnya. Impian yang selama ini dia tekuni membuahkan hasil. Suara emasnya tidak tertahan lagi. Hingga semua penonton ikut berdiri memberi semangat.

          Setelah Mima selesai mempersembahkan sebuah lagu. Mima menjadi banyak fans. Semuanya memanggil Mima dan Kagum. Tapi tidak dengan Putrid an gengnya yang selalu iri. Saat giliran Putri bernyanyi kertas-kertas menyertai karena suara yang sangat tidak enak didengar. Semuanya tertawa, menertawakan Putri yang menjadi viral tidak bisa bernyanyi.

          Saat pengumuman diumumkan. Mima menjadi salah satu juara. Sebuah produser datang dan menghampiri dirinya. Kabar baik itu dibawanya hingga kekedua orang tuanya. Saat Impian semakin nyata. Mima mencurahkan isi hatinya tentang keluarganya disebuah acara televisi.  Akhirnya kedua orangtuanya sedikit sadar dan bergegas menjumpai anaknya disebuah studio Televisi.

          Tidak sengaja Papa dan Mamanya bertemu. Kemudian Mima memeluk mereka berdu`a. Isak tangis bahagia menyertai mereka bertiga. Saling berpelukan dan saling meminta maaf. Kini Impian dan masalah Mima terselesaikan satu persatu.

          Wahyu yang datang membawa bunga juga mengungapkan perasaannya pada Mima. Sontak Mima menerimanya dan tersenyum memeluknya. Kini Impian itu menjadi sangat sangat nyata. Memiliki keluarga yang utuh kembali. Memiliki penyemangat hidup, dan memiliki suara yang indah.

          Impian bukan sebatas mimpi. Tapi impian didasari oleh tekad dan hati. Walau impian kita sangat tidak memungkinkan. Suatu hari nanti Impian itu akan membawa kita mencapai kesuksesan. Jangan pernah lelah bermimpi. Karena Mimpimu adalah Masa Depanmu.






~Selesai~