IMPIAN MIMA
Oleh : Syamsuhidjar Ar Rasyidi
Tidak sanggup lagii harus melihat
penderitaan yang dialami. Sangat tersedak tangis jika mengingat semuanya. Hanya
suara yang dia punya. Mungkinkah bisa merubah segalanya? Dengan kepercayaan dan
keyakinan. Mudah-mudahan.
Mima adalah seorang anak tunggal. Mama
dan Papanya sangat senang jika Mima pulang membawa piala dari suaranya. Sudah
bertahun dan berturut-turut Mima memenangkan juara lomba Menyanyi.
Kini orangtua sudah tiada kabar.
Mereka berhamburan seperti gelas pecah. Mima yang merasa sendirian Tidak kuat
untuk menahan senyuman terpaksa ini.
Pagi ini Mima pertama kalinya
menjalankan pendidikannya disebuah SMA. Dirinya menghela nafas yakin akan jalan
pilihannya. Dalam penglihatan yang begitu teliti. Mima melihat banyak dari
sebagian orang mempunyai bakat-bakat terpendam. Banyak juga seleksi dari
sekolah untuk bisa menjadi bintang. Tapi mengapa mereka tidak ingin
melakukannya. Tekad mereka ciut seperti tahu basi. Punya talent tidak
dimanfaatkan. Sungguh sangat disayangkan.
Mima yang masih berstatus anak baru
itu duduk disebuah kursi kosong. Terlihat dua orang perempuan menghampirinya.
“Eh kau
anak baru. Udah izin belum duduk disitu?” Tanya Putri yang sebenarnya adalah
sekelas dengan Mima.
“Loh kita
kan baru masuk. Kelas juga baru dibagi. Kenapa aku tidak boleh duduk disini?”
Jawab Mima dengan heran.
“Oke
kalau itu mau kau” Ucap Lagi Putri kemdian menghampiri Mima dan menjambak
rambutnya hingga Mima tersedak tangis.
Putri adalah seseorang yang sangat
berkuasa didalam kelas itu. Walau anak baru, dia dapat dengan cepat menguasai
kelas dan teman-temannya. Sekrang Putri menjadi salah satu ketua geng. Yang
dibintangi Ayu dan Nabilla.
Sekarang mereka bertiga menjadi sangat
berkuasa. Tidak ada yang berani jika harus menentang mereka. Mungkin saja ada
orang yang bisa menyadarkan mereka, akan keburukan yang mereka buat. Semoga
karma menyertai mereka diujung cerita.
2 bulan
kemudian……
Mima yang sudah tampak pucat, tidak
dapat berdaya. Dirinya sempat berdo’a untuk seseorang yang dapat membantunya.
Mengapa dunia ini terlalu kejam baginya. Tidak ada satu orangpun yang membelanya
dibully. Hingga pada suatu saat ada anak baru bernama Wahyu datang memasuki
kelas Mima.
Wahyu mengenalkan dirinya dan
tersenyum melihat Mima. Mima yang duduk sendirian kemudian dihampiri Wahyu yang
bergegas duduk disebelahnya.
“Hay”
Sapa Wahyu.
“Hay Juga”
Balas Mima lembut.
“Wahyu”
Ucap Wahyu menydorkan tangannya.
“Udah
kenal, kan tadi perkenalkan diri” Balas Mima tertawa kecil.
“Hahaha.
Iyaiya” Balas Wahyu sedikit tersenyum aneh.
Saat jam istirahat berlangsung. Suatu
informasi mengabarkan bahwa ada penyeleksian untuk penyanyi disekitar sekolah.
StarSchool. Mima yang tersentak bersemangat untuk mendaftar. Tapi ada saja yang
menghadangnya.
“Kau mau
ikut? Yakin? Sebagus apa suaramu?” Tanya Putri dengan senyuman jahat.
Mima yang terdiam lalu mengabaikannya.
Mima yang sangat yakin ingin membuktikan kepada Mama dan Papanya. Mima ingin
mereka sadar bahwa Mima adalah anak mereka yang tidak bisa tanpa mereka. Semoga
beban ini terselesaikan satu persatu.
Saat pedaftaran dimulai. Mima yang
menunggu cukup lama kemudian dipanggil.
“Kamu
pemenang lomba nyanyi yang di Medan itu kan?” Tanya salah satu juri.
“Ehm, Iya
pak” Jawab Mima malau-malu.
“Bagus.
Hadiah lomba ini lumayan besar Dan banyak reputasi kamu kedepannya. Kamu juga
bisa menjadi seorang singer di wilayah ini jika kamu mau. Teruskan perjuangan
ya. Saya percaya sama kamu” Ucap Juri itu memotivasi Mima.
Mima yang tersenyum bahagia tiba-tiba
saja didorong hingga jatuh.
“Belum
apa-apa udah curang. Juri udah disuap? Dasar lemah!!!” Ucap Putri yang melipat
tangannya.
“Kaliian
ini selalu mengusikku” Jawab Mima beranjak berdiri.
“Oh
jelas. Kami ini tidak suka sama kau!!!” Bentak Nabilla yang terus mendorong
bahu Mima.
“Terus
kau mau apa” Ucap Ayu sembari menjambak Mima.
“Kalian
jahat sekali. Aku mohon tinggalkanku” Tangis Mima memohon.
“Dasar
Lemah!!!” Ucap Putri bergegas pergi.
Mima duduk dan melamun disebuah pohon.
Wahyu yang terkejut melihat Mima bergegas menghampiri Mima.
“Hey,
kenapa nangis?” Tanya Wahyu menatap Mima.
“Wahyu”
Peluk Mima dengan terisak tangisan.
“Kenapa?”
Tanya lagi Wahyu penasaran.
“Kehidupan
ini jangan disesali Mima. Jalani apa saja yang menjadi sesuatu keuntungan buat
kita” Ucap Wahyu menenangkan Mima.
“Iya.
Makasih ya” Balas Mima menghapus airmatanya.
“Buat?”
Tanya Wahyu heran.
“Buat semangatnya”
Jawab Mima tersenyum manis kepada Wahyu.
“Iya
sama-sama” Ucap Wahyu membalas senyuman Mima.
Sebentar lagi Mima menjadi salah satu
Finalis dalam ajang lomba bernyanyi. Terlihat semua peserta panik menghadapinya. Bukan mereka saja. Mima
sendiri juga sangat tidak percaya diri. Namun Wahyu meyakinkan dirinya. Mima
juga menjadi lebih semangat.
Dengan sangat belum siap Mima menjadi
peserta nomor pertama yang dipanggil. Mima maju dan tepukan menyertainya
termasuk Wahyu. Mima berulang kali menghela nafasnya dan bergegas maju keatas
panggung.
Dia menyanyi dengan sangat leluasa.
Hingga juri-juri terpukau melihatnya. Impian yang selama ini dia tekuni
membuahkan hasil. Suara emasnya tidak tertahan lagi. Hingga semua penonton ikut
berdiri memberi semangat.
Setelah Mima selesai mempersembahkan
sebuah lagu. Mima menjadi banyak fans. Semuanya memanggil Mima dan Kagum. Tapi
tidak dengan Putrid an gengnya yang selalu iri. Saat giliran Putri bernyanyi
kertas-kertas menyertai karena suara yang sangat tidak enak didengar. Semuanya
tertawa, menertawakan Putri yang menjadi viral tidak bisa bernyanyi.
Saat pengumuman diumumkan. Mima
menjadi salah satu juara. Sebuah produser datang dan menghampiri dirinya. Kabar
baik itu dibawanya hingga kekedua orang tuanya. Saat Impian semakin nyata. Mima
mencurahkan isi hatinya tentang keluarganya disebuah acara televisi. Akhirnya kedua orangtuanya sedikit sadar dan
bergegas menjumpai anaknya disebuah studio Televisi.
Tidak sengaja Papa dan Mamanya
bertemu. Kemudian Mima memeluk mereka berdu`a. Isak tangis bahagia menyertai
mereka bertiga. Saling berpelukan dan saling meminta maaf. Kini Impian dan
masalah Mima terselesaikan satu persatu.
Wahyu yang datang membawa bunga juga
mengungapkan perasaannya pada Mima. Sontak Mima menerimanya dan tersenyum
memeluknya. Kini Impian itu menjadi sangat sangat nyata. Memiliki keluarga yang
utuh kembali. Memiliki penyemangat hidup, dan memiliki suara yang indah.
Impian bukan sebatas mimpi. Tapi
impian didasari oleh tekad dan hati. Walau impian kita sangat tidak
memungkinkan. Suatu hari nanti Impian itu akan membawa kita mencapai
kesuksesan. Jangan pernah lelah bermimpi. Karena Mimpimu adalah Masa Depanmu.
~Selesai~